SUMBER KONFLIK SERTA ASPEK DALAM MANAJEMEN KONFLIK
Sumber konflik menurut pakar,
serta aspek-aspek dalam manajemen konflik
Pembimbing
:
Muhummatul
Hasanah, M. Ps.i
Tugas mata
kuliah :
Disusun
oleh :
Kelompok III
1.
Nur Maliyah 3. Wiwin Idawati 5. Rifqi Sya’roni
2.
Nur Faidha 4.
Syafiq 6. Sighit Imanul .M.
Fakultas Tarbiyah
Prodi MPI C
Semester IV
INSTITUT
PESANTREN SUNAN DRAJAT
2016-2017
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI KONFLIK
Konflik
merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Bahkan sepanjang kehidupan,
manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan konflik. Demikian halnya dengan
kehidupan organisasi. Anggota organissai senantiasa dihadapkan pada konflik. Konflik
sangat erat kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan diabaikan, disepelekan, tidak dihargai, dan ditinggalkan, karena kelebihan beban kerja atau kondisi yang tidak memungkinkan. Perasaan-perasaan
tersebut sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya kemarahan. Keadaan tersebut akan
mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan kegiatannya secara langsung, dan
dapat menurunkan produktivitas kerja secara
tidak langsung dengan melakukan banyak kesalahan yang disengaja maupun
tidak disengaja.
Konflik, dapat
dikatakan sebagai suatu oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang,
kelompok-kelompok atau antara organisasi satu dengan lainnya. Dalam bahasa
yunani konflik yaitu configure, conflictum berarti saling berbenturan. Arti
kata ini menunjukan pada semua bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuian, ketidakserasian,
pertentangan, perkelahian, oposisi, dan interkasi-interkasi yang antagonis
bertentangan.[1]
Menurut Nardjana (1994) Konflik adalah akibat situasi dimana keinginan
atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain,
sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.
Menurut Killman dan Thomas (1978),
konflik merupakan
kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin
dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan
orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan
menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan
produktivitas kerja.
Menurut Wood, Walace, Zeffane,
Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1998:580) yang dimaksud dengan konflik (dalam
ruang lingkup organisasi) adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling
tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi
dan/atau dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.
Menurut Husaini Usman, konflik adalah pertentangan antara
dua orang atau lebih terhadap satu hal atau lebih dengan sesama
organisasi atau dengan organisasi lain[2]
Menurut Stoner Konflik organisasi adalah mencakup ketidaksepakatan soal
alokasi sumberdaya yang langka atau peselisihan soal tujuan, status, nilai,
persepsi, atau kepribadian.
Daniel Webster mendefinisikan konflik sebagai:
1. Persaingan
atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain.
2. Keadaan
atau perilaku yang bertentangan.[3]
B.
SUMBER-SUMBER
KONFLIK
1. Konflik Dalam Diri Individu (Intraindividual Conflict)
a.) Konflik yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai
(goal conflict)
Menurut Wijono (1993, pp.7-15), ada
tiga jenis konflik yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai (goal
conflict), yaitu:
1) Approach-approach conflict, dimana
orang didorong untuk melakukan pendekatan positif terhadap dua persoalan atau
lebih, tetapi tujuan-tujuan yang dicapai saling terpisah satu sama lain.
2) Approach-Avoidance Conflict, dimana
orang didorong untuk melakukan pendekatan terhadap persoalan-persoalan yang
mengacu pada satu tujuandan pada waktu yang sama didorong untuk melakukan
terhadap persoalan-persoalan tersebut dan tujuannya dapat mengandung nilai
positif dan negatif bagi orang yang mengalami konflik tersebut.
3) Avoidance-Avoidance Conflict, dimana
orang didorong untuk menghindari dua atau lebih hal yang negatif tetapi
tujuan-tujuan yang dicapai saling terpisah satu sama lain.
Dalam hal ini, approach-approach
conflict merupakan jenis konflik yang mempunyai resiko paling kecil dan mudah
diatasi, serta akibatnya tidak begitu fatal.
b.) Konflik yang
berkaitan dengan peran dan ambigius
Di dalam organisasi,
konflik seringkali terjadi karena adanya perbedaan peran dan ambigius dalam
tugas dan tanggung jawab terhadap sikap-sikap, nilai-nilai dan harapan-harapan
yang telah ditetapkan dalam suatu organisasi.
Filley and House memberikan kesimpulan atas hasil penyelidikan kepustakaan mengenai konflik peran dalam organisasi, yang dicatat melalui indikasi-indikasi yang dipengaruhi oleh empat variabel pokok yaitu :
Filley and House memberikan kesimpulan atas hasil penyelidikan kepustakaan mengenai konflik peran dalam organisasi, yang dicatat melalui indikasi-indikasi yang dipengaruhi oleh empat variabel pokok yaitu :
a. Mempunyai
kesadaran akan terjadinya konflik peran.
b. Menerima
kondisi dan situasi bila muncul konflik yang bisa membuat tekanan-tekanan dalam
pekerjaan.
c. Memiliki
kemampuan untuk mentolelir stres.
d. Memperkuat
sikap/sifat pribadi lebih tahan dalam menghadapi konflik yang muncul dalam
organisasi
“Menurut Stevenin”,
ada beberapa faktor yang mendasari munculnya konflik antar pribadi dalam
organisasi misalnya adanya:
1. Pemecahan masalah
secara sederhana. Fokusnya tertuju pada penyelesaian masalah dan orang-orangnya
tidak mendapatkan perhatian utama.
2.
Penyesuaian/kompromi. Kedua pihak bersedia saling memberi dan menerima, namun
tidak selalu langsung tertuju pada masalah yang sebenarnya. Waspadailah masalah
emosi yang tidak pernah disampaikan kepada manajer. Kadang-kadang kedua pihak
tetap tidak puas.
3. Tidak sepakat.
Tingkat konflik ini ditandai dengan pendapat yang diperdebatkan. Mengambil
sikap menjaga jarak. Sebagai manajer, manajer perlu memanfaatkan dan
menunjukkan aspek-aspek yang sehat dari ketidaksepakatan tanpa membiarkan adanya
perpecahan dalam kelompok.
4. Kalah/menang. Ini
adalah ketidaksepakatan yang disertai sikap bersaing yang amat kuat. Pada
tingkat ini, sering kali pendapat dan gagasan orang lain kurang dihargai.
Sebagian di antaranya akan melakukan berbagai macam cara untuk memenangkan
pertarungan.
5.
Pertarungan/penerbangan. Ini adalah konflik “penembak misterius”. Orang-orang
yang terlibat di dalamnya saling menembak dari jarak dekat kemudian mundur
untuk menyelamatkan diri. Bila amarah meledak, emosi pun menguasai akal sehat.
Orang-orang saling berselisih.
6. Keras kepala. Ini
adalah mentalitas “dengan caraku atau tidak sama sekali”.
Satu-satunya kasih karunia yang menyelamatkan dalam konflik ini adalah karena biasanya hal ini tetap mengacu pada pemikiran yang logis. Meskipun demikian, tidak ada kompromi sehingga tidak ada penyelesaian.
Satu-satunya kasih karunia yang menyelamatkan dalam konflik ini adalah karena biasanya hal ini tetap mengacu pada pemikiran yang logis. Meskipun demikian, tidak ada kompromi sehingga tidak ada penyelesaian.
7. Penyangkalan. Ini
adalah salah satu jenis konflik yang paling sulit diatasi karena tidak ada
komunikasi secara terbuka dan terus-terang. Konflik hanya dipendam. Konflik
yang tidak bisa diungkapkan adalah konflik yang tidak bisa diselesaikan.
C.
MACAM-MACAM KONFLIK
1.
Konflik individu dengan
individu
Konflik tersebut terjadi antara individu pimpinan
dengan individu pimpinan dari berbagai tingkatan. Individu pimpinan dengan
individu karyawan maupun antara individu karyawan dengan individu karyawan lain.
2.
Konflik individu dengan
kelompok
Konflik semacam ini, dapat terjadi antara pimpinan
dengan kwlompok ataupun antara individu karyawan dengan kelompok pimpinan.
3.
Konflik kelompokm dengan kelompok
Konflik tersebut terjadi antara kelompok pimpinan
dengan kelompok karyawan, kelompok pimpinana dengan kelompok karyawan yang
lain.
D.
PENYEBAB KONFLIK
Konflik dapat
dikarenakan oleh berbagai macam hal, secara umum penyebab konflik adalah:
1.
Adanya tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya, ketidakpastian mengenai
kebutuhan yang harus dipenuhi, konflik peranan, konflik kepribadian, dan
konflik tugas diluar kemampuan.
2. Perbedaan peranan (atasan dan bwahan),
kepribadian dan kebutuhan (konflik vertikal).
3. Individu mendapat tekanan dari klompoknya
atau individu bersangkutan telah melanggar norma-norma kelompok sehingga
memusuhi atau dikucilkan kelompoknya. Berubahnya visi, misi, tujuan, sasaran,
strategi dan aksi individu tersebut dengan visi, misi, tujuan, sasaran,
strategi dan aksi organisasi.
4. Karena ambisi salah satu atau kedua kelompok
untuk lebih berkuasa, ada kelompok yang menindas, ada kelompok yang melanggar
norma-norma budaya kelompok lainnya (konflik primodial).
5. karena
perbuatan kekuasaan orgaaniasi baaik ekonomi maupun politik (konflik horizontal
dn konflik elit politik).[4]
Adanya
perbedaan-perbedaan yang tidak bisa diterima oleh individu atau kelompok dalam
organisasi yang tidak segera diatasi dapat menimbulkan konflik. Dalam
orgamisasi biasanya ada penentang dan pendukung perubahan.
E.
LANGKAH-LANGKAH
MENANGANI MANAJEMEN KONFLIK
1.
Menerima dan menndefinisi
pokok-pokok mas alah yang menimbulkan ketidakpuasan.
Langkah ini sangat penting karena kekeliruan dalam
mengetahui masalah yang sebenarnya akan menimbulkan kekeliruan pula dalam
merumuskan cara pemecahannya.
2.
Mengumpulkan keterangan
atau fakta.
Fakta yang dikumpulkan haruslah lengkap dan akurat,
tetapi juga harus dihindari tercampurnya dengan opini atau pendapat. Opini atau
pendapat sudah dimasuki unsur subyektif.
3.
Menganalisis dan memutuskan.
Dengan diketahuinya masalah dan terkumpulnya data,
manajemen haruslah mulai melakukan evaluasi terhadap keadaan. Seringkali dari
hasil analisa bisa mendapatkan berbagai alternatif pemecahan.
4.
Memberikan jawaban.
5.
Tindak lanjut.
Langkah ini diperlukan untuk mengawasi akibat dari
keputusan yang telah diperbuat.[5]
F.
DAMPAK AKIBAT
KONFLIK
1.
Dampak positif.
a)
Membuat organisasi tetap
hidup dan harmonis.
b)
Berusaha menyesuaikan diri
dengan lingkungan.
c)
Melakukan adaptasi,
sehingga dapat terjadi perubahan dan perbaikan dalam sistem dan prosedur,
mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.
d)
Memunculkan
keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.
e)
Memunculkan persepsi yang
lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.
2.
Dampak negatif.
a)
Menghambat komunikasi.
b)
Mengganggu kohesi (keeratan
hubungan).
c)
Mengganggu kerjasama atau
“team work”.
d)
Mengganggu proses produksi,
bahkan dapat menurunkan produksi.
e)
Menumbuhkan ketidakpuasan
terhadap pekerjaan.
f)
Individu atau personil
mengalami tekanan (stress), mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan,
mangkir, menarik diri, frustrasi, dan apatisme.
[1]
Mulhimah, Manajement Konflik dalam Organisasi, http://jurnal-356-663-2-PB.Pdf.
[2]
Husaini Usman, Manajemen (Teori, Praktik, Dan Riset Pendidikan),
(Jakarta : Bumi Aksara, 2010), Ed.3. Cet. 2, Hal. 466.
Komentar
Posting Komentar